follow me

header ads

Ditakdirkan Hidup Di Negeri Terbalik, Aku Bisa Apa?

Hai, perkenalkan, namaku Aprayugo, penulis amatir yang ingin mengembangkan bakatnya. kali ini, di laman yang kamu baca saat ini, aku ingin menceritakan keluh kesahku hidup di negeri yang sekarang aku pijak.
     Sebagaimana yang kamu baca di judul, iya, aku hidup di negeri yang terbalik. Bukan berarti kali ini aku sedang mengetik dengan keadaan kaki di kepala dan kepala di kaki. Terbalik disini bukan makna yang sebenarnya, melainkan konotasi dari pola pikir masyarakat yang ditakdirkan untuk berpijak di negeri tempat ku mengetik saat ini. Tak hanya satu dua saja pola pikir masyarakat di negeriku yang mampu melawan logika. Jika dihitung, bisa ratusan, atau ribuan, atau jutaan pola pikir salah yang melekat pada orang-orang di negeri ini.

     Menurutmu, apasih kegunaan sebuah helm saat kita berkendara di jalan? Kalau aku sih berpendapat bahwa helm berfungsi sebagai alat pelindung kepala saat hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. namun berbeda dengan orang-orang di negeriku. Di negeriku, helm adalah jimat yang membuat kita kebal dari tilangan polisi. Meskipun jimat tersebut tidak mempan jika tanpa kelengkapan surat-surat dan atribut kendaraan saat razia resmi berlangsung.

     Bagiku helm adalah kebutuhan kita sendiri sebagai pengendara keselamatan sedikit lebih terjamin. Meskipun tidak bisa dipungkiri kecelakaan dapat menghancurkan helm beserta kepala yang dilindunginya, namun setidaknya kita sudah berusaha melindungi kepala yang dititipkan oleh tuhan kepada kita. Lagi-lagi logika yang aku pahami ini berbeda seratus delapan puluh dejarat dengan pola pikir yang berkembang di negeriku, tidak semua sih, tetapi banyak. Logikaku mengatakan bahwa sebaiknya aku menggunakan helm, pakai helm aja belum tentu selamat, apalagi tidak. Namun bagi mereka, orang orang yang berpola pikir terbalik, helm itu tidak diperlukan selama tidak ada polisi, tanpa helm aja selamat, kenapa harus repot-repot menggunakan helm?. Tentu ini adalah nalar yang salah yang jangan kamu tiru.

     Itu baru salah satu contoh pola pikir terbalik pada masyarakat di negeriku. Masih banyak pola pikir-pola pikir tidak logis lainnya yang seolah menghipnotis jutaan warga negeriku dan akhirnya mereka terpaksa terjerumus untuk ikut andil menggunakan logika terbalik tersebut. Intinya, di album “Negeri Terbalik” ini aku akan menceritakan segenap keluh kesahku hidup di negeriku sendiri, atau mungkin juga negerimu. Tak perlu ku sebutkan negeri mana yang ku maksud, tetapi sepertinya kamu sudah mengerti dengan sendirinya tanpa harus aku kasih tahu. Jika kamu tahu negeri yang ku maksud, dan benar kamu berada di posisi yang sama denganku, pastilah kamu tahu apa yang aku rasakan hidup di negeri ini. Aku merasa tidak jenak bernapas hidup di negeri yang tidak sepemikiran dengan logikaku. Rasanya seperti konotasi terbalik itu menjadi denotasi, seolah olah aku benar benar sedang dalam keadaan terbalik, tentu saja aku tidak akan nyaman ada dalam posisi tersebut. Memang sih, tuhanlah yang menakdirkanku unruk lahir, besar, dan hidup di negeri ini. Tetapi aku sering bertanya-tanya mengapa harus negeri yang terbalik ini yang dituliskan dalam buku takdirku. Kenapa bukan Negara lain saja yang masyarakatnya memiliki pola pikir sejalan dengan logika yang ada di dalam kepalaku? Itu yang aku rasakan hidup dinegeri ini, bagaimana denganmu? (aprayugo)

Post a Comment

0 Comments